Handry Satriago – CEO GE Indonesia

Dr. Handry SatriagoDia telah buktikan pada dunia sebagai lulusan universitas dalam negeri yang berhasil mengisi posisi teratas sebagai Presiden GE Indonesia, dan sekaligus tercatat sebagai pemimpin termuda dalam sejarah GE Global. Prestasi itu diraihnya melalui perjuangan yang keras, penuh semangat, all-out dalam memenuhi kebutuhan intelektual dan kesehariannya. Handry dipercaya dan aktif menjadi Gubernur di America Chamber of Commerce Indonesia, dan sebagai anggota komite Indonesia di US-ASEAN Business Council. Peminat pendidikan kemasyarakatan dan kegiatan relawan ini bercita-cita memberikan kontribusi kepada pendidikan masyarakat Indonesia agar dapat bersaing di dunia global. Apa yang telah diraihnya kini merupakan buah manis dari semangat hidupnya saat bangkit melawan keterbatasan. Sejak penyakit kanker getah bening menyerang kesehatannya di usia 18 tahun, ia harus menghadapi kenyataan memakai kursi roda hingga sekarang. Sebagai anak muda wajar jika ia meluapkan emosinya terhadap keadaannya. Ia sempat putus asa dan mengurung diri di dalam kamar. Namun setelah tiga bulan dalam kesedihan yang amat sangat, Handry bangkit dan kembali bersekolah. Handry Satriago bersekolah di SMA Labschool Jakarta dan mendapatkan gelar Sarjana S1 nya dari IPB dalam bidang Teknologi Industri Pertanian (Bioindustrial Engineering) pada tahun 1993, dan S2 (Cum Laude) Magister Management (MM) dari IPMI, Jakarta. Dual degree dgn MBA dari Monash University, Australia pada tahun 1997. Handry menamatkan S3 nya pada tahun 2010 di Universitas Indonesia, dengan meraih gelar Doktor dalam bidang Strategic Management. Dalam proses pembelajaran dan perjuangan hidupnya, Handry menarik kesimpulansungguh besar Allah yang telah menciptakan manusia yang mampu beradaptasi dengan segala kondisi di dunia ini, dan terus berupaya untuk mencari kehidupan yang lebih baik”. Bagaimana selanjutnya pengalamannya memimpin GE Indonesia? Apa strategi kepemimpinan yang diterapkan seorang Handry? Keseimbangan apa yang dijalaninya, hidup antara karir dan kegiatan kemasyarakatan?