Ignasius Jonan : Seorang Pemimpin Harus Bisa Memberi Contoh

JAKARTA – Ignasius Jonan, Menteri ESDM berkesempatan untuk sharing knowledge kepada para pegawai KESDM dalam acara One Hour University di Gedung Badan Pengembangan SDM ESDM (BPSDM ESDM), Kamis (10/11). Acara dihadiri oleh Kepala BPSDM ESDM, Dirjen Ketenagalistrikan, Kepala Balitbang ESDM, Wakil Kepala SKK Migas, para Pejabat Tinggi Pratama, Pejabat Administrator, Pejabat Pengawas, Fungsional Tertentu/Fungsional Umum serta para pegawai di lingkungan KESDM.  

 Djadjang Sukarna, Kepala BPSDM ESDM mengatakan bahwa One Hour University merupakan flagship program dari KESDM yang menghadirkan pimpinan yang mampu membawa perubahan di berbagai sektor untuk berbagi pengalaman dan ilmunya kepada seluruh pejabat dan pegawai KESDM sehingga diharapkan mampu meningkatkan kepemimpinan dan budaya kerja organisasi di lingkungan KESDM.

“Perubahan harus dimulai dari diri sendiri, menjadi pemimpin itu harus bisa hidup dengan orang yang dipimpin,” jelas Jonan. Menurutnya, sebagai seorang pemimpin harus bisa beradaptasi dan berubah ke arah yang lebih baik. Bagi Jonan, konsep leadership adalah seorang pemimpin harus dapat memberi contoh. “Kalau kita tidak punya kompetensi apapun, satu yang penting harus dimiliki yaitu dapat memberi contoh,” kata Jonan. Walalupun seorang pemimpin memiliki pendidikan tinggi dan berkompeten, tapi kalau dia tidak dapat memberikan contoh bagi anak buahnya, menurut Jonan tidak ada leadership dalam organisasi tersebut.

Pria yang juga pernah menjabat sebagai Menteri Perhubungan  ini mengatakan bahwa ia tidak pernah kagum dengan seseorang yang memiliki gelar pendidikan tinggi yang ilmunya hanya untuk kepentingan diri sendiri. “Banyak orang pintar, tapi belum tentu semua yang pintar-pintar itu cakap memimpin dan mengkoordinasikan sebuah tim kerja dan membawa perubahan,” ungkapnya. Seseorang harusnya dapat  bermanfaat bagi orang lain dan  memiliki kontribusi di dunia ini, percuma jika sekolah tinggi tapi tidak bermanfaat bagi lingkungan sekitarnya.

Menurutnya, sebagai seorang pemimpin  harus berpikir bahwa jika tak bisa melakukan hal besar sebaiknya lakukan hal kecil dengan sungguh-sungguh. Layaknya seorang ibu yang detail mengurus dan memikirkan anak-anaknya. Dengan begitu organisasi yang dipimpinnya bisa berjalan dengan baik dijalurnya.

Jonan menunjukkan kutipan yang dibuatnya sendiri. Bunyinya, ‘Misalnya Tuhan memberi kita umur 75 tahun, maka pada 25 tahun pertama kita banyak menerima, dan 25 tahun berikutnya hidup harus seimbang, memberi dan menerima. Pada 25 tahun terakhir, maka harus lebih banyak memberi daripada menerima.’ “Kalau pikiran anda menerima terus ya sampai mati pasti merana,”pungkasnya. Di akhir sesi, Jonan memutarkan video transformasi PT. KAI yang merupakan pencapaian kinerja dibawah kepemimpinannya. (rwp)